Sabtu, 14 Juni 2008

Dari Chappy untuk Dirgantara Indonesia


Judul Buku : Untuk Indonesiaku; Setumpuk Harapan Kedepan

Penulis : Chappy Hakim

Penerbit : INDSET

Cetakan : Pertama, Desember 2006

Tebal : 409 halaman

Salah satu masalah yang cukup signifikan dan terus menciptakan keprihatinan bagi kita bersama adalah masalah kedirgantaraan. Selain tata kelola pertahanan udara, masalah juga timbul dari masih buruknya manajemen penerbangan komersial kita, baik dalam hal pelayanan, penentuan tarif, persaingan kurang sehat antar maskapai, hingga banyaknya kecelakaan udara di tanah air.

Banyaknya hal yang menimbulkan keprihatinan ini pulalah, yang tampaknya membuat Chappy Hakim, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara berpangkat Marsekal TNI, gerah. Baginya, banyak hal yang bisa dikritisi, dan banyak hal yang bisa diangkat sebagai evaluasi atas segala sesuatu yang terjadi.

Soal profesionalisme dalam dunia penerbangan, misalnya. Seringnya terjadi kecelakaan pesawat terbang belakangan ini, merupakan sinyal bahwa telah terjadi penurunan kualitas profesionalisme dari SDM penyelenggara operasi penerbangan di Indonesia. Dalam kacamata Chappy, penurunan kualitas tersebut sulit dihindari, karena adanya ketidakseimbangan antara penciptaan SDM berkualitas dengan tingginya laju tuntutan pertumbuhan akan kebutuhan udara. Pertumbuhan pesawat serta peralatannya bisa berlangsung cepat, karena hanya tergantung dari satu aspek, yakni dana.

Sementara, pembentukan SDM yang berkualitas tidak bisa se-instan dan secepat pengadaan infrastruktur. Pada akhirnya, yang terjadi adalah percepatan pendidikan yang sifatnya “memaksakan diri”, serta munculnya praktek-praktek “pembajakan” tenaga penerbang dan teknisi (hal. 201-203).

Berbagai analisa mengenai kecelakaan pesawat, juga disajikan oleh Chappy. Sebagai pilot senior –bahkan pernah menjadi penerbang kepresidenan--, Chappy banyak mengulas masalah tersebut. Mulai dari peristiwa jatuhnya pesawat Mandala Airlines di Medan, juga kasus “nyasar”-nya Adam Air ke Bandara Tambolaka, Nusa Tenggara Timur.

Secara detail, Chappy mengungkap berbagai kemungkinan sebuah pesawat kehilangan arah. Selain dimungkinkan akibat pemeriksaan kelaikan terbang yang kurang akurat, disinyalir adanya kerusakan suku cadang yang sebenarnya sudah diketahui sebelumnya, namun tetap digunakan (hal. 139).

Kesasarnya Adam Air, bagi Chappy meninggalkan tanda tanya yang cukup besar. Selain sudah lengkapnya safety device (peralatan pengaman), sistem navigasi pesawat jenis Boeing 737 seri 300 pun sudah sangat canggih. Ia memiliki Automatic Direction Finder (radio kompas) dan VOR/DME yang memudahkan pelaksanaan penerbangan. Juga ada automatic pilot, radar cuaca, Ground Proximity Warning System yang memberitahukan jarak terhadap tanah, serta Anti Collision System yang memberitahu bila ada pesawat di dekatnya.

Banyak lagi hal yang diulas oleh Chappy. Persoalan jagad kedirgantaraan yang lain, seperti masalah di PT. Dirgantara Indonesia, renungan di hari Angkatan Udara, peringatan 100 tahun penerbangan, tak luput dari ulasan kritis Chappy.

Chappy juga banyak menyoroti kebijakan pemerintah dalam dunia pertahanan udara. Sebagai contoh, artikelnya tentang pilihan untuk melanjutkan proyek Sukhoi atau menghidupkan kembali F-16 yang sudah kita miliki, soal perlukah kita membeli pesawat BE-12, kedaulatan negara di udara, perlunya pengadaan pesawat amphibi, dan sebagainya.

Masih banyak hal yang ditulis Chappy, karena buku ini memang sebuah kumpulan tulisan Chappy di media massa ibukota tahun 2005-2006, kecuali satu artikelnya tentang 100 tahun penerbangan yang muncul di Kompas pada Desember 2003. Tulisan “tertua” lainnya tertanggal 15 September 2005. Tulisan “termuda”, bahkan sudah mencakup tuangan pikir Chappy tertanggal 20 November 2006 di Harian Seputar Indonesia.

Jadi, sebagai sebuah wacana, tulisan-tulisan Chappy masih sangat hangat dan relevan untuk dibaca saat ini.

Kalaupun ada kritik yang bisa dilayangkan atas penerbitan, ada dua hal yang dapat dikemukakan. Pertama, adanya tema tulisan yang “melompat” dari kecenderungan tema tulisan yang lain. Dengan membuat statistik atas isi buku ini, secara umum tulisan Chappy bergerak antara evaluasi dunia penerbangan dan pertahanan udara (31 artikel atau 56,36%), serta tema lain yang mengarah pada ulasan politik pertahanan dan keamanan (18 artikel atau 32,73%).

Nah, 6 artikel tersisa (10,91%) inilah yang tampaknya kurang relevan untuk dimasukkan dalam buku ini. Yakni tulisan tentang Tsunami, Semrawut, Ambeg Parama Arta, Pengaruh Media Massa, Tradisi Potong Kompas serta Asap dan Spirit Asean.

Sebenarnya buku ini sangat bagus jika dispesialisasikan menjadi buku bertema pertahanan dirgantara. Menjadi disayangkan, karena dengan masuknya artikel non-tematis ini membuat buku ini terkesan sekedar kumpulan tulisan Chappy tanpa garis besar tema. Jika ini dipikirkan, maka judul buku pun bisa lebih fokus lagi, semisal menjadi “Untuk Dirgantara Indonesiaku”.

Kedua, kenapa INDSET tidak menggandeng Harian Seputar Indonesia dalam penerbitannya? Dari statistik di atas, 87,27% atau 48 artikel berasal dari tulisan Chappy di Harian Sindo, dan hanya 7 artikel (12,73%) yang berasal dari media lain (Kompas).

Ini tentu bagus untuk pengembangan kerjasama badan kajian INDSET yang relatif baru berdiri, sekaligus bisa memaksimalkan promosi serta alur distribusi buku ini kepada masyarakat sebagai bahan bacaan yang bermutu tinggi.

Lepas dari itu semua, buku ini bagus untuk dikonsumsi setiap anak bangsa, yang masih peduli dengan carut marut dunia penerbangan dan pertahanan udara kita.

***

NB : Resensi ini dimuat di Harian Seputar Indonesia pada Minggu, 18 Februari 2007.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar