Minggu, 08 Juni 2008

Etnis Tionghoa di Ranah Minang


Judul Buku : Asap Hio di Ranah Minang : Komunitas Tionghoa di Sumatera Barat

Penulis : Erniwati

Pengantar : Bambang Purwanto

Penerbit : Ombak, bekerja sama dengan Yayasan Nabil

Cetakan : Pertama, Januari 2007

Tebal : xvi + 176 halaman

Komunitas Tionghoa dan segala aspek kehidupannya semakin menemukan eksistensi serta pengakuannya di Nusantara tercinta. Dimulai dengan pengakuan atas keberadaan Hari Raya Imlek, hingga kemudahan untuk menjadi Warga Negara Indonesia.

Pengakuan yang dipelopori pemerintahan era Gus Dur ini menjadi tonggak bersejarah, sehingga saat ini kita bisa benar-benar merasakan atmosfir persaudaraan sesama anak bangsa, yang sama-sama berjuang untuk bangsa tercinta. Keberadaan kaum Tionghoa di jajaran pemerintahan pun semakin hari semakin mengalami keluasan.

Semua ini menciptakan gairah baru dalam masyarakat kita. Termasuk, gairah untuk mengetahui lebih jauh mengenai sejarah, tradisi serta aspek kehidupan lain dari komunitas etnis Tionghoa.

Dalam konteks demikian, kehadiran buku Asap Hio di Ranah Minang ini menemukan relevansinya. Buku yang ditulis oleh Erniwati, staf pengajar di jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang ini bercerita panjang lebar tentang sejarah terbentuknya komunitas Tionghoa di Sumatera Barat, berikut perilaku ekonomi dan peran kaum Tionghoa dalam perubahan masyarakat di Ranah Minang.

Sebagaimana masuknya pendatang asing lain ke bumi Nusantara, kedatangan orang Tionghoa juga berawal dari keperluan dagang dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Disinyalir, bangsa Cina mulai mengadakan hubungan dagang di Sumatera, Kalimantan dan Jawa sejak pemerintahan Dinasti Man (206 SM – 221 M). Hal ini ditunjukkan dengan adanya temuan-temuan arkeologi yang berupa patung batu serta barang-barang keramik produksi Cina.

Khusus di Ranah Minang, para pedagang Tionghoa mulai masuk ke daerah Sumatera Barat melalui Pelabuhan Pariaman. Fakta yang diambil dari buku tulisan Christine Dobbine menyebutkan, pada tahun 1672 sudah ditemukan beberapa pedagang Tionghoa yang menetap dan membentuk perkampungan di Pariaman. Jumlah ini semakin meningkat setelah VOC menjadikan Pariaman sebagai pelabuhan terbuka dengan pola perdagangan bebasnya.

Sejak itu, terbentuk kelompok-kelompok Tionghoa yang tinggal di Padang, Pariaman dan Tiku. Jumlah warga Tionghoa yang masuk ke Minang semakin meningkat pada masa kekuasaan Dinasti Qing (1644 – 1911) di Cina, dengan dibukanya hubungan dagang melalui Pelabuhan Amoy, Kwangtung dan Fukien.

Dalam perjalanannya, terjadi pembauran etnis Tionghoa dengan etnis Minangkabau akibat adanya perkawinan antar kedua etnis tersebut. Kebudayaan Minang pun pada akhirnya mengalami akulturasi dengan budaya Tionghoa.

Pembahasan Erniwati semakin menarik diikuti manakala penulis kelahiran 1971 itu mengulas tentang cikal bakal istilah Tionghoa peranakan dan Tionghoa totok, dengan berbagai ciri artifisialnya.

Bab lain yang tak kalah menarik adalah pembahasan tentang perilaku ekonomi etnis Tionghoa. Berdasar pengamatan, terdapat kesamaan kepemilikan naluri bisnis antara etnis Minangkabau dengan etnis Tionghoa. Namun demikian, terdapat perbedaan dalam cara berbisnis, antara lain berupa skala usaha, jangkauan serta jaringan usaha. Dalam hal ini, penduduk asli Minang harus mengakui kelebihan para pebisnis Tionghoa.

Kelebihsuksesan para pedagang Tionghoa ini disebabkan beberapa hal. Pertama, pedagang Tinghoa mampu melaksanakan praktek perkongsian dan memanfaatkan hubungan dengan para pejabat setempat. Kedua, adanya mobilitas idealisme dalam diri pedagang Tionghoa. Ketiga, tertanamnya ajaran Konfusius yang memberikan pandangan tentang dunia, karena pada dasarnya Konfusius banyak mengatur hubungan horizontal dan landasan moral untuk orang Tionghoa di manapun berada. Keempat, adanya etos kerja yang tinggi. Kelima, modal yang cukup. Keenam, pedagang Tionghoa mampu berkembang di daerah pertanian. Dan ketujuh, karena Pemerintah Belanda memberi kedudukan yang lebih tinggi kepada pedagang Tionghoa daripada pedagang pribumi.

Bagian terakhir, yakni tentang posisi komunitas Tionghoa dalam perubahan masyarakat Sumatera Barat, juga sangat menarik untuk disimak. Baik yang berkaitan dengan sistem sosial dan kekerabatan, agama dan kebudayaan, orientasi politik, pendidikan, serta organisasi dan perhimpunan Tionghoa yang ada.

Sebagai sebuah referensi, buku ini cukup “sempurna”. Alur tulisan dari bab ke bab berjalan berturutan. Cara bertutur yang tidak membosankan, sumber pustaka yang representatif, serta adanya kelengkapan indeks dan glosarium, menjadi keunggulan buku terbitan Penerbit Ombak ini. Kalaupun ada ketidakjelasan pada gambar ilustrasi, tentu dapat dimaklumi karena hampir semuanya berasal dari repro foto masa lampau.

Tantangannya sekarang, adakah penulis lain yang tertarik mengungkap perjalanan saudara Tionghoa kita di daerah lain, yang tentunya memiliki warna dan rasa berbeda. Jika ada, tentu akan sangat bagus untuk kehidupan kebhinekaan kita.

***


Salam buku,

Fajar S Pramono


Tidak ada komentar:

Posting Komentar